Archive for July, 2006

Musik Pelangi Nidji, Modern-Etnik Letto

Wednesday, July 26th, 2006

Republika, Minggu, 23 Juli 2006 17:15:00

Setelah Samsons menjulang, kini giliran Letto dan Nidji yang tampil unjuk kebolehan bermusik. Bernaung di bawah bendera perusahaan yang sama, mereka tampil dengan ciri tersendiri dan berbeda. Nidji hadir dengan musik pelanginya yang mereka sebut alternatif modern dan Letto yang mengawinkan nada-nada pentatonik gamelan dengan musik modern. Keunikan itulah yang membuat Letto, grup band asal Yogyakarta dan terbentuk pada akhir 2004 ini dengan personel Noe (vokal/kibor), Patub (gitar), Arian (bass), dan Dedi (drum), berkibar.
Awalnya, Letto diperkenalkan dalam album kompilasi Pilih 2004 lewat single I’ll Find A Way. ”Mereka menawarkan musik yang beda dari yang selama ini pernah ada di Musica,” ucap A & R (artist & repertoire) Musica Studio’s, Anasthasia Sadrach, dalam sebuah rilis.
Inilah yang membuat Musica Studio’s, perusahaan rekaman yang kini menaungi Letto, memberi kesempatan untuk merilis album utuh yang diberi titel Truth, Cry, and Lie. Ternyata, album yang beredar pada akhir Februari 2006 ini langsung terjual lebih dari 75 ribu keping dan kini penjualan albumnya telah mencapai angka 100 ribu kopi lebih. ”Sebagai pendatang baru Letto cukup sukses. Letto berhasil menawarkan musik yang berbeda,” ujar Indrawati Widjaja, bos Musica Studio’s.
Bu Acin, sapaan akrab Indrawati, melihat Letto memiliki warna musik yang beragam serta juga memasukkan unsur musik tradisional dengan corak slendro dan pelog dalam permainan instrumen modern. Di tengah ketatnya persaingan grup musik, lanjutnya, penampilan Letto dirancang dengan konsep yang matang dengan memiliki keunikan. ”Selain tidak selalu terpaku kepada satu jenis aliran musik, mereka juga memiliki kekhasan dalam corak lagunya yang berbeda,” ujarnya.
Bu Acin melihat, kelebihan lain album Truth, Cry, and Lie adalah kehadiran lirik lagu bahasa Inggris yang lebih dominan. Lirik-lirik lagu puitis tersebut, termasuk yang berbahasa Inggris, seluruhnya ditangani oleh Noe, sang vokalis. Semua itu, kata dia, mengalir secara spontan dan alami. ”Kami ini anak desa, tidak pernah berpikir yang muluk-muluk. Semua mengalir sesuai dengan kata batin,” ucap putra budayawan Emha Ainun Nadjib ini.
Dia mengakui sebagian besar terinspirasi dari pengalaman pribadi. Sedangkan untuk aransemen musik dikerjakan mereka bersama-sama. Tak heran jika masing-masing memberi pengaruh dalam setiap lagu. Alhasil, akan terasa sedikit ramuan dari rock ala Led Zeppelin, J-rock ala Kitaro, punk rock, bahkan psikadelik. Ramuan unik itu setelah berpadu terasa begitu easy listening.
Untuk yang penasaran dengan arti kata Letto, Noe yang bernama asli Sabrang Mowo Damar Panuluh itu mengungkapkan bahwa Letto secara harfiah sebenarnya tidak ada artinya sama sekali. ”Yang terpenting itu dalam bermusik haruslah jujur dan penuh cinta,” ujarnya.

Selengkapnya di www.the-letto.blogspot.com

Kolaborasi Romantis Nidji, Letto & Kerispatih

Friday, July 21st, 2006
Lirik Sampai Nanti, Sampai Mati, sangat multi interpretatif — bisa ditafsirkan sebagai lirik cinta, patah hati, persahabatan, bahkan tentang Tuhan — dan sarat dengan pesan positif.
Pelaku industri rekaman paham benar prinsip ini; sukses sebuah band ―entah itu baru atau lama― tidak bisa diramalkan. Hitung-hitungan seilmiah apa pun juga tak bakalan sanggup menebak keberhasilan sebuah band.

Pun ketika Nidji menjejakkan tanahnya di industri musik lokal. Tak ada satupun yang berani meramal mereka bakal sukses. Status mereka sebagai pendatang baru makin membuat masa depan mereka susah ditebak. Tapi, lihatlah, dalam beberapa bulan terakhir nyaris semua penikmat musik di Indonesia, menyebut nama band yang digawangi Giring (vokal), Rama (gitar), Ariel (gitar), Randy (kibor), Andro (bas), dan Adri (dram). Musik Nidji yang mirip-mirip Coldplay, The Killers, Keane ―karena ini mereka kerap ditudingimitator― rupanya disambut hangat publik. Jangan heran kalau saban hari band asal Jakarta ini muncul di berbagai stasiun teve. Di layar gelas, dengan penuh semangat band ini mendendangkan hit Child atau Sudah.

Tak cuma di teve, di radio mereka pun berjaya. Tembang besutan Nidji punya frekuensi air play yang tinggi. Child dan Sudah pernah bergantian merasakan nikmatnya berada di puncak tangga lagu berbagai stasiun radio. Ada lagi. Nidji, kini termasuk salah satu band yang punya frekuensi manggung nan padat. Bagaimana dengan penjualan album? “Sampai saat ini album kami sudah dapat penghargaan gold ―penghargaan ini diberikan bila sebuah penyanyi band meraih angka penjualan 75.000 keping– Lumayanlah, paling tidak kami sudah berada di wilayah aman sekarang,” ujar Rama. Catatan prestasi bisa dibilang luar biasa mengingat mereka belum seumur jagung masuk dalam industri rekaman.

Nidji ―yang diambil dari kosa kata Jepang Niji, yang berarti pelangi― terbentuk tahun 2002 lalu. Band ini terbentuk karena sering nongkrong di studio musik salah satu personelnya, Andro. “Dari sekian banyak musisi yang kumpul di sana, cuma kami berenam yang punya satu visi. Kami lalu sepakat membentuk Nidji,” ucap Ariel. Seperti band kebanyakan, Nidji kepengin punya album rekaman. Mereka lalu berinisiatif menyebarkan demo rekaman ke berbagai perusahaan rekaman. Tapi hasilnya nol besar. Tak satupun perusahaan rekaman yang mau merekrut mereka.

Lantaran tak juga mendapat respon dari perusahaan rekaman, mereka memberanikan diri membuat album yang diproduksi dan dirilis secara independen. “Tahun 2004 akhir kami merilis mini album. Isinya dua lagu, Heaven dan Child. Kami lempar 500 keping ke pasaran, album ini habis,” bilang Rama. Bakat besar Nidji tercium Musica Studio. Suatu kali ketika tampil di EX Plaza ―band ini kerap tampil di pusat perbelanjaan ini― penampilan mereka dilihat Indrawati Widjaya, atau akrab dipanggil Bu Acin, pemilik perusahaan rekaman Musica Studio’s. “Waktu kami manggung, bu Acin kebetulan lewat lihat kami. Dia melihat kami sebanyak dua kali. Ia lalu mengirimkan orang. Kami lalu disuruh bikin demo rekaman,” cerita Giring. Lalu pada Juli 2005, mereka menandatangani kontrak dengan Musica’s Studio.

Pengalaman pertamakali rekaman dan sukses, juga dialami Kerispatih. Lewat album Kejujuran Hati, band yang digawangi Sammy (vokal), Badai (piano, synthesizer), Andika (bas), Arief (gitar) dan Anton (dram). Singel album ini ―yang berjudul Kejujuran Hati– mengena di hati publik. Maklum lagu ini memenuhi berbagai syarat buat diterima kuping di sini. Tempo medium dengan lirik romantis plus vokal renyah Sammy membuat lagu ini cepat diterima. Cuma bermodalkan hit Kejujuran Hati, Kerispatih melambung. Album debut Kerispatih sukses berat. Sekitar 300 ribu keping sudah ludes terjual. Ini angka yang tak pernah dibayangkan personel band ini. “Kami nggak pernah menyangka bisa menjual album sebanyak itu. Kalau ditanya apa rahasianya? Menurut saya lantaran musik romantisme yang kami usung. Jujur saja tembang bernapaskan romantisme, sangat digemari. Bisa jadi, inilah alasan kenapa banyak yang membeli album kami,” ujar Sammy yang pernah menjalin hubungan cinta dengan Nania Indonesian Idol. Bermodalkan awal yang cukup sukses, Kerispatih kini tengah menggarap album kedua yang juga bernapaskan romantisme. Album ini akan diluncurkan September-Oktober 2006, seusai tur di beberapa kota dan juga negara. Belajar dari pembuatan album pertama yang digarap dua minggu di studio rekaman, Sammy ingin pembuatan album kedua lebih matang. “Kami menanamkan prinsip: jangan pernah merasa puas. Yang pasti setiap hal ada kekurangan,” ujarnya. Sammy yang bernama lengkap Hendra Samuel Simorangkir itu menuturkan, album kedua nanti diisi dengan format musik yang lebih dewasa. Genre pop groovy yang dianut band yang semua personelnya jebolan Institut Musik Indonesia (IMI) akan tetap ditekuni dengan irama yang lebih tinggi.

Band lain yang bisa dibilang dapat atensi di album perdananya adalah Letto. Album debut band asal Yogyakarta ini, Truth, Cry, And Lie sampai kini telah terjual lebih dari 75.000 keping. Sukses band yang digawangi Noe (vokal) Patub (Guitar), Dedi (dram, perkusi), dan Arian (bas) ini jadi pembuktian, band asal Yogyakarta masih bisa berbicara banyak di kancah musik lokal. Sukses band ini terdongkrak setelah melempar singel Sampai Nanti, Sampai Mati. Tembang Sampai Nanti, Sampai Mati amat simpel dan mudah dicerna kuping. Kalau disimak, lagu ini punya keistimewaan. Ada nada-nada pentatonis yang cukup unik.Lirik Sampai Nanti, Sampai Mati, sangat multi interpretatif — bisa ditafsirkan sebagai lirik cinta, patah hati, persahabatan, bahkan tentang Tuhan — dan sarat dengan pesan positif. Band ini makin diperhitungkan setelah merilis singel Sandaran Hati dan Ruang Rindu. Maklum, lagu dengan tempo medium ini sangat klop dengan selera kuping penggemar musik lokal.

Meski album perdana mereka disambut gempita, Nidji, Letto, dan Kerispatih masih perlu pembuktian lebih supaya bisa menyejajarkan diri dengan band lain yang lebih dulu mapan. Buat jadi band mapan selain butuh waktu, ketiga band ini harus terus membuat karya yang apik.

Sumber: bintang-indonesia.com

Konser XL & Hugo’s Cafe: Sampai Mati Bersama Letto

Friday, July 21st, 2006
Bisnis.com, 05 Jul 2006 04:35 wib

"Operator seluler yang sangat peduli dengan anak muda ini jumat malam lalu memanjakan para pelanggan setianya. Para pengguna kartu Bebas disuguhkan mini konser grup band Letto, bertempat di salah satu tempat pesta terkenal di Kota Pekanabaru, Hugo’s Cafe. Group band yang terkenal dengan hitsnya ‘Sampai Nanti Sampai Mati’ memukau penonton yang tidak sabar menantikan kehadirannya malam itu."

Grup band yang sudah tidak asing lagi dan kerap tampil dalam acara-acara musik baik live maupun di stasiun televisi nasional ini membuka konser malam itu dengan cara yang berbeda pada setiap konser pada umumnya. kelompok musik yang terdiri dari Noe (vokal), Ari (bas), Agus Patub (gitar), dan Dedi (drum), tidak secara berbarengan tampil ke atas panggung, Noe tidak tampak menyapa penggemarnya malam itu, hal ini membuat suasana histeris dari beberapa orang penggemar. Mereka mencari dimana sang vokalis ini berada.

Tidak lama setelah itu, Noe yang juga anak kandung dari budayawan Emha Ainun Najib ini muncul dari kerumunan penonton. Berbagai lagu romantis dari album ‘Truth, Cry and Lie’ mengalun menyapa penonton malam itu.

Penampilan Letto ditengah ketatnya persaingan grup musik baru memang bukan hal yang kebetulan. Namun, sudah dirancang dengan konsep yang matang karena Letto memiliki keunikan lain dibanding kelompok musik lainnya. Selain tidak selalu terpaku kepada satu jenis aliran musik, mereka juga memiliki kekhasan dalam corak lagunya.

Lagu-lagu yang dibuat Letto diupayakan untuk selalu menangkap emosi yang berbeda. Keunikan Letto tak hanya dari warna musiknya, tapi juga bisa ditengok dari sejarah berdirinya kelompok musik ini, yang juga berlainan dengan jalur biasanya. Didirikan pada 2004 silam, cikal bakal Letto berawal dari pertemanan masing-masing personelnya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Anehnya, mereka berkumpul bukan untuk bermain musik tapi untuk berteater. Kemudian mereka memberi nama grupnya ini dengan sebutan Letto yang secara harfiah sebenarnya tidak ada artinya sama sekali.

Letto lebih diidentikan dengan proses perjalanan berdirinya grup musik ini. Kiprah mereka di dunia teater kemudian berlanjut dengan keterlibatannya dengan kelompok Kyai Kanjeng pimpinan budayawan Emha Ainun Najib. Kendati begitu, proses perjalanan musik Letto tidak serta merta mengikuti aliran musik Kyai Kanjeng. Namun mereka tidak memungkiri adanya warna musik Kyai Kanjeng yang diadopsi, terutama musik-musik Jawa kuno dengan corak slendro dan pelog yang dipadukan dalam permainan instrumen modern. Sejak didirikan, Letto memang memiliki prinsip untuk selalu terbuka dengan kehadiran beberapa corak musik.
(Sumber: Tabloid Bisnis)

Konser Optimisme Cinta di Tulungagung

Friday, July 21st, 2006

Radar Tulungagung, Rabu, 28 Juni 2006

Satu lagi grup papan atas menyapa music lovers Tulungagung, Letto. Grup band asal Kota Gudeg, Jogjakarta, itu dua malam lalu tampil romantis di hadapan penggemarnya di Hall Yudistira Barata. Setidaknya, 12 lagu dikumandangkan Letto untuk memuaskan publik yang belakangan ini haus dengan kedatangan grup musik yang sering menghiasi layar kaca. Sekitar 500 lebih pasang mata lebih menyaksikan penampilan grup yang baru saja tampil di Sentul, Bogor itu. Sejak pukul 19.00, penggemar sudah berada di mulut panggung. Mereka menunggu konser bertajuk Optimisme Cinta with Letto kerja bareng A Mild Live Production bersama Jack Production itu. Sebelum Letto melantunkan lagunya, terlebih dulu beberapa band lokal tampil menunjukkan kebolehannya. Seperti Yussel Band, Nu Deep Band dan lain sebagainya. Tembang bernuansa rap dan rock serta romantis menjadi ciri khas band-band tersebut. Tepat pukul 21.00, enam cowok berjalan di tengah-tengah kerumunan penonton. Salah satunya pemuda berambut gondrong berbaju jins biru yang ternyata bernama Noe. Dia langsung menyapa dengan lagu berjudul No One Talk Ab’ Love To Nite. Ya, lagu tersebut memang milik Letto yang menjadi hits single-nya. Cabikan Arian (bass) dan lentikan jemari Patub (melody) menjadikan suguhan Letto benar-benar istimewa, belum lagi hentakan bunyi drum, Dedi membuat hall seakan bergetar. Lighting dan penataan panggung juga menjadi keunggulan sendiri. Dua personel tambahan juga tak lupa diusung, Cornel (rithym) dan Uta (keyboard). Lagu-lagu lain yang disuguhkan; Truth Cry and Lie, Sebenarnya Cinta, Ruang Rindu dan lain sebagainya. Kepandaian Noe membawakan lagu, menjadi magnet sendiri penampilannya di Kota Marmer ini. Terlebih ketika melantunkan lagu Sandaran Hati yang memang menjadi ciri khas Letto. Noe-pun tak banyak mengeluarkan tenaganya, pasalnya penggemarnya sudah dulu menghafal lagu yang tak asing lagi di telinga kaum muda. "Tulungagung, alangkah indahnya. Memberi nuansa sendiri bagi saya," kata Noe yang disambut dengan jeritan penggemarnya. Kurang lebih dua jam, Letto tampil di panggung. Sebagai lagu pamungkas, dikumandangkan Sampai Nanti Sampai Mati. (ziz) (Sumber: Radar Tulungagung)

Sekarang Harus Sering Mandi

Friday, July 21st, 2006
Jawa Pos, Kamis, 13 Juli 2006.
Di tengah maraknya kemunculan band baru, nama Letto termasuk berhasil mencuri perhatian. Debut album perdana bertajuk Truth, Cry, and Lie sudah terjual 75 ribu keping sejak diedarkan Desember tahun lalu. Grup beranggota Dedy (drum), Noe (vokalis), Patub (gitar), dan Arian (bas) itu optimistis penjualan masih akan meningkat.

Terlebih, saat ini mereka baru saja merilis single ketiga, Ruang Rindu menyusul Sampai Nanti Sampai Mati dan Sandaran Hati. "Mudah-mudahan setelah peluncuran single ketiga, penjualan album bisa terus meningkat," ujar Noe saat bertandang ke Gedung Graha Pena Jakarta kemarin.

Nama Letto sendiri, dijelaskan Noe, tidak memiliki arti khusus. "Nama ini sebagai identitas. Banyak orang yang mencari arti dari nama sebuah band. Tapi, kami mencoba memberi arti untuk nama band kami yang tidak punya arti," jelas pria berambut gondrong itu.

Soal konsep, tutur Noe, band yang mulai terbentuk pada April 2004 itu tidak menetapkan aliran musik tertentu. "Kesukaan musik kami beda-beda. Ada yang suka, alternatif, jaz, malah ada juga yang nge-punk. Tapi, dari orang yang ngedengerin sih, musik kami Insya Allah pop," katanya.

Keempat pemuda itu menjalin persahabatan sejak masih duduk di bangku SMA. Kini setelah mulai dikenal banyak orang, mereka mengaku tidak mengalami perubahan yang mencolok.

"Paling kalau lagi di tempat umum, ada yang kenal sama kami. Tapi, yang paling terasa sih, kami jadi lebih sering mandi," kelakar Dedy yang disambut tawa teman-temannya. "Soalnya, kalau mau show, mandi. Mau pemotretan, mandi lagi. Begitu seterusnya," sambungnya.

Tidak sedikit band yang diawali pertemanan, namun karena ada ketidakcocokan dalam produksi, akhirnya berselisih atau malah pecah. Namun, Letto berharap kejadian itu tidak menimpa mereka.

"Band ini bagian kecil dari pertemanan kami. Jadi, kami bukan berteman karena band. Kalaupun satu saat nanti band ini bubar, kami tetap jadi teman," tandas Noe. (rie)


(sumber:
Jawa Pos)

Letto Mulai Unjuk Gigi.

Friday, July 21st, 2006
Matahari makin condong ke arah barat. Langit tertutup arak-arakan warna hitam. Di ujung lapangan basket milik stasiun RCTI, empat pemuda sedang asyik lengak-lenggok. Puluhan pasang mata hampir tak berkedip merekam kejadian demi kejadian. Beberapa fotografer juga tak mau kalah berpacu mengabadikan pose-pose empat pria tersebut dalam frame kameranya. Merekalah para personil Letto, grup band asal Jogja yang beranggotakan Noe (Vokal, kibor), Patub (Gitar), Araimn (Bas) dan Dedy (Drum, Perkusi).

Apalah arti sebuah nama. Kalimat itu mungkin paling pas untuk menggambarkan grup band Letto yang mulai merangkul hati pecinta musik tanah air ini. Menurut mereka, pemilihan nama untuk grup hanya kebutuhan identitas. Karena itu mereka memilih nama yang simple dan tak perlu yang susah-susah. "Pas bangun tidur, tiba2 kok ketemu nama Letto, Persisnya April 2004," tukas Noe sang vokalis.

Awal terbentuknya vokalis Letto menurutnya bermula dari pertemanan antara Noe, Patub dan Arian yang ketiganya merupakan satu sekolahan di SMA 7 Jogja dan lulus tahun 1997. Sedangkan Dedy baru menyusul kemudian karena kebetulan dia adik kandung Patub.

Magnet perkawanan empat pemuda itu semakin mengental saat diserahi mengelola studio recording Geese di Yogyakarta. Di studio itu mereka bergelut dengan musik hingga mereka paham sekali proses mixing, mastering dan memproduksi musik.

Sebelum bermain band, mereka sebetulnya lebih akrab dengan musik-musik tradisional. lantas Musica kemudian menawari mereka untuk membuat album sendiri. "Setelah mendapat tawaran dari Musica, kit akaget, bersyukur, buat band dan baru buat nama." ujar Patub. Jarak antara masuk kompilasi Pilih 2004 dengan album Letto kurang lebih satu tahun. Waktu satu tahun itu dimanfaatkan personil Letto untuk mengumpulkan materi-materi lagu. "Kebetulan anak-anak Letto memang suka berkutat dengan musik. Makanya sudah punya bayangan sehingga mempermudah mengumpulkan materi," sambar Arian.

Sebetulnya mereka berangkat dari latar belakang musik yang berbeda-beda. Arian suka dengan Punk dan Jazz, Dedy memilih model musik anak muda jaman sekarang Top Forty, Alternative. patub suka musik tahun 70-an. Sedang Noe sendiri lebih patuh pada ilustrasi musik New Age, instrumental. Makanya personil Letto menyepakati konsep musik yang demokratis dan tak ada yang menganggap dirinya dominan. "Kita satu sama lain tidak mau memaksakan karakter musik masing-masing. Semuanya diberikan ruang kreasi," ujar Dedy.

Untuk penggarapan lagu, mereka tak perlu jauh-jauh menyepi ke gunung. Cukup mengambil realita kehidupan sehari-hari sudah sangat banyak untuk bisa ditulis dan bisa jadi sesuatu. "Memang dalam prosesnya, ada yang liriknya dulu, lalu konsep lagunya dulu. namun ada juga yang jalan bareng." jelas sang vokalis.

Untuk aransemen, mereka mengerjakan bersama-sama. Tak heran jika masing-masing membawa pengaruh dalam setiap lagu. Tak semuanya bukan asal bunyi. Apalagi didukung dengan vokal Noe yang melankolis tapi tidak cengeng. "Dasarnya melakukan semua ini karena kita bertanggung jawab terhadap kesempatan yang terbuka. Waktu itu niat untuk bermain musik memang menggebu, tapi belum ada bayangan untuk masuk industri," celetuk Patub.

Separuh album Letto memang berbahasa Inggris. Namun mereka menegaskan kalau ini sebenarnya bukan gaya-gayaan. "Ini adalah kreativitas jujur yang mengalir," tukas Noe. bahkan dalam musik mereka, terselip khasanah etnik yang dikawinkan dengan permainan instrumentmodern. Hasilnya sebuah karakter musik yang beda, namun tetap enak untuk dinikmati. "Kita tak membuat perbedaan, tapi membiarkan perbedaan itu muncul. Karena pada dasarnya setiap manusia beda," lanjut Noe.

Jika menyimak lagu Sampai Mati, Sampai Nanti yang menjadi single pertama album Letto, lagiu itu bertutur tentang sikap optimistis menghadapi hidup. Walau begitu, mereka tidak mau menjadi pengkhotbah. Lirik-lirik puitis dalam lagu Sandaran hati, U&I, Insensitivr dan No One Talk About Love bergaya puitis. Semua digarap oleh Noe. "Kami anak ndeso. Tidak pernah berfikir yang muluk-muluk. Semua mengalir dengan kata bathin," katanya.

(Sumber: Genie)

Profil Letto: Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe)

Tuesday, July 18th, 2006
Noe, Menganggap Cak Nun Sebagai Teman Ketimbang Ortu.

Kata demi kata, kalimat demi kalimat menyembur dari mulut basah pemuda bercelana Jeans yang sobek-sobek dari pangkal paha hingga menyentuh mata kaki ini. Sesekali bahasanya beraroma sastra. Lain kali terdengar begitu teoritis dan matematis. Namun tak jarang ia mengumbar plesetan dan canda ria dengan logat jawanya yang begitu kental. Jari-jari tangan kanannya menjepit sebatang rokokputih. Sosok ini tak lain adalah Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe, vokalis grup band Letto yang tengah merangkak naik.

Ternyata, vokalis grup band ini adalah putra budayawan Emha Ainun Najib hasil perkawinannya dengan Neneng. Rupanya gaya pendidikan Cak Nun (panggilan Emha) begitu membekas terhadap anaknya. Saat berbincang, Noe menyebut ayahnya dengan inisial CN (kependekan dari Cak Nun).

"Sejak kecil hingga sebesar ini, belum pernah dia memerintah harus begini atau begitu. Dia selalu mengajarkan dasar pemikiran yang jelas. Segala sesuatu harus mulai dengan. Mau main hujan aja harus tau alasannya apa," papar lelaki berzodiak Gemini itu.

Menurutnya CN membekali banyak hal, termasuk mendekatkan dirinya pada Tuhan. Tapi jangan bayangkan budayawan mbeling itu menyuruh anaknya Sholat, ngaji atau perintah-perintah akhirat yang sejenisnya.

"Untuk urusan spiritual, CN mengajari saya bagaimana menjadikan Tuhan sebagai teman. Misalnya saat melihat rumput yang tumbuh. CN mengatakan itu bukan saja proses alam, melainkan proses Tuhan juga ada di situ" tukas penyuka makanan Sushi ini.
"CN mengajarkan bagaimana hidup dan memahami masalah. Ibarat komputer, CN bukan memberi data, tapi membentuk processor. Sehingga apapun yang masuk menjadi jelas karena processor-nya jelas. Makanya saya lebih menganggap CN sebagai teman dari pada sebagai orang tua," lanjutnya.

Sejak kecil Noe, tinggal di Metro daerah Lampung. Saat menginjak umur 6 tahun, orangtuanya memutuskan untuk bercerai. Noe menjadi korban broken home? Ternyata tidak. Memang alumnus SD 1 Yosomulyo, Lampung itu sempat bertanya-tanya tentang hubungan kedua orang tuanya. Sehingga wajar ketika Noe kecil makin sering diskusi dengan CN. Untungnya CN bisa menggiring anaknya untuk percayaakan keputusan cerai terhadap istri pertamanya.

"Saya tidak menerima itu sebagai suatu perpisahan. Karena CN sering datang ke lampung. Hubungan mereka tetap seperti saudara. sampai sekarangpun tetap baik," kata alumnus SMP Xaverius Metro Lampung ini. Noe mengaku tidak merasa punya pengalaman traumatis kehancuran bahtera rumah tangga kedua orangtuanya. Dia melihat itu dengan jernih dan menganggapnya sebagai keputusan logis, bukan emosional semata.

"Yang terbaik emang seperti itu. kalaupun mereka pisah saya nggak merasa kehilangan apapun," terang anak pertama dari empat bersaudara ini.

Setelah lulus SMP, Noe memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Jogja. Tahun 1998, kemudian Noe melanjutkan jenjang pendidikannya ke University of Alberta, Kanada dengan mengambil konsentrasi bidang Matematika. Namun rupanya, kakak dari Haya, Obal dan Rampak ini belum puas. Selain itu, karena otaknya yang eamng terbilang encer, Noe menambah konsentrasi di bidang lain yakni Kimia. Selain itu di negeri bule itu, Noe belajar tentang musik teknologi.

Tahun 2004, vokalis yang bercita-cita ingin memiliki pusat riset ilmu pengetahuan ini kembali ke tanah tampah darahnya.

"Ide-ide tentang ilmu yang dulu saya pelajari di Kanada tak kumpulin di HP. Entah kapan punya kesempatan untuk merealisasikan ide itu." tandas cucu dari Pak kami dan Bu Kami ini.

Noe mengaku sebenernya ia bukan orang yang punya talent di dunia musik dan hanya sebatas suka mendengarkan musik. Sebelumya ia lebih enjoy menjadi sosok di belakang layar dari pada tampil di atas hiruk-pikuk panggung. Semuanya bermula ketika pamannya memberikan kaset bekas kumpulan lagu-lagu Queen. Saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Setelah mendengarkan berulang kali, akhirnya dia punya pikiran bagaimana membuat musik yang bisa menggerakkan rasa dan menggerakkan perasaan orang lain. Mulailah Noe bersentuhan dengan keyboard, alat yang pertama ia sentuh.

"Sebenernya aku gak iso nyanyi. Karena kebetulan saat bikin lagu, tidah ada yang nyanyi. jadi sebenernya terpaksa. lantas kemudian ketika memasuki wilayah industri, harus nyanyi," canda pria kelahiran 10 Juni 1979 ini. Sebagai tempat pelampiasan bermusik, Noe memanfaatkan studio Kyai Kanjeng, grup musik milik ayahnya sebagi tempat praktiknya. Kreasi hobinya tak sia-sia. Lagu-lagu yang sekarang ngetop dibawakan Letto merupakan hasil kreativitasnya.

"Dari studio Kanjeng, saya bisa ngerti bagaimana mixing, mastering dan memproduksi musik," ungkap anak tiri bintang sinetron Novia Kolopaking itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, penyuka aktor Morgan Freeman ini meyadari akan segala kekurangan skill-nya di ranah musik. Tuntutan belajarpun mulai menggelisahkan dirinya. Penggalian bakat mulai dilakukan dengan lebig serius. Beruntung Noe tipe orang yang tak malu-malu bertanya dan belajar.

"Saya belajar kepada ibu Bertha. Menimba ilmu dengan siapa saja. Malah kalo ketemu Rendra, saya banyak belajar dari dia bagaimana mengangkat performance di atas panggung," akunya.

Saat ditanya tentang keterlibatan dengan narkoba, Noe menjawab seperti diplomat ulung, "Semua orang tau bahwa api itu panas. Apa perlu membuktikan sendiri kalo api itu panas. Begitu juga narkoba. saya sudah melihat sendiri bagaimana efek yang ditimbulkan narkoba," katanya.

Noe pun kini merasa senang dengan respons masyarakat terhadap karya dirinya dan teman-temannya di grup band Letto. Tapi ia tak mau semua itu nantinya malah akan mengubah siapa mereka sebenarnya.

Nama Lengkap: Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe)
Tanggal Lahir: Jogjakarta, 10 Juni 1979
Posisi: Vokalis dan Keyboard
Musik Fave: Queen, Yani, Kitaro
Sekolah: SD 1 Yosomulyo Lampung, SMP Xaverius Metro Lampung, SMA 7 Jogja, University of Alberta Kanada
Friendster: http://www.friendster.com/user.php?uid=1628387
Mobile: +6281227xxxxx

(Sumber: Genie, photo: Tam)


Posted by All About Letto to .:: [All About LETTO] ::. at 7/17/2006 06:55:00 AM

Foto-Foto Musik Special SCTV~ Nidji-Letto-Kerispatih

Tuesday, July 18th, 2006

Noe Letto & Giring Nidji


Posted by All About Letto to .:: [All About LETTO] ::. at 7/14/2006 06:39:00 AM

Foto-foto lain bisa dilihat di www.the-letto.blogspot.com

Musik Spesial: Bicara Cinta Bersama LEtto, Nidji & Kerispatih

Tuesday, July 18th, 2006
SAATNYA bicara cinta.
Tak cuma soal kebahagiaan, tapi juga kepedihan.
Malam nanti, tiga band baru yang tengah naik daun akan mengajak Anda menyelami arti cinta.
Ada Nidji dengan musik "pelanginya", Kerispatih yang akan melantunkan tembang classy-nya, dan musik Letto yang mengawinkan nada-nada pentatonik gamelan dengan musik modern.

Nidji. Meski terbilang anyar, grup yang mengusung konsep musik alternative pop ini ternyata sudah punya jadwal manggung yang sangat padat.
Tak mengherankan, mengingat performa Giring (vokal), Rama (gitar), Ariel (gitar), Randy (kibor), Andro (bas), dan Andri (drum) di atas panggung memang patut diacungi jempol.
Hebatnya lagi, gramatikal Inggris mereka begitu kaya.

Hingga label yang menaungi mereka berani merilis album debut ini dalam 2 versi: full-Inggris dan campuran Indonesia-Inggris.

Band yang juga terbilang pendatang baru adalah Kerispatih.
Grup yang 100% terdiri atas mahasiswa IMI ini memang beruntung.
Baru saja merilis album pertama bertajuk Kejujuran Hati, penggemarnya sudah melimpah.
Lagu band yang digawangi Sammy (vokal), Badai (piano, synthesizer), Andika (bas), Arief (gitar), dan Anton (drum) ini memang punya kekuatan, romantis dan classy.

Sementara, band lain yang dapat perhatian di album perdananya adalah Letto.
Sebenarnya mereka bukan band baru.
Sebelumnya Noe (vokal/kibor), Patub (gitar), Arian (bass), dan Dedi (drum) pernah masuk di kompilasi Pilih 2004 dengan menyodorkan tembang berbahasa Inggris I`ll Find Away yang mendapat sambutan cukup bagus.
Dan kini, mereka diberi kesempatan untuk merilis album utuh yang diberi titel Truth, Cry, and Lie yang ternyata sukses terjual lebih dari 75 ribu keping.

Lantas, seromantis apa kalau tiga band pendatang baru ini bicara cinta dalam satu panggung? Tunggu nanti malam, dan biarkan aksi mereka yang menjawabnya.


Posted by All About Letto to .:: [All About LETTO] ::. at 7/13/2006 03:52:00 PM

Profil Letto: Dedy Riyono (Dedy)

Wednesday, July 12th, 2006

Cowok kelahiran Yogyakarta, 23 januari 1987 ini merupakan personel Letto yang paling muda. Iapun mengaku ‘tercebur’ ke jalur musik lantaran Patub, kakaknya yang merupakan gitaris Letto sering memutar lagu-lagu Queen di kamarnya.
"Kebetulan sejak kecil, aku memang sekamar sama Patub. Setiap hari, dia sering banget muterin lagu-lagunya Queen. Mungkin dari situ akhirnya aku juga suka musik." cerita Dedy.

Tentang keahliannya menggebuk drum, Dedy bercerita kalau itu bermula lantaran sejak TK, ia sudah mulai aktif mengikuti drumband di sekolahnya.
"Dulu tuh aku nggak mau masuk TK yang nggak ada drumband-nya. Waktu masuk SD jug abegitu. Sampai Kelas 2 SD, aku ikutan drumband. Setelah itu aku sudah mulai ikut-ikutan ngejams sama anak-anak Letto yang sekarang." cerita Dedy yang mengaku tidak pernah mengikuti sekolah formal khusus drum.
"Jadi memang otodidak aja. Mungkin karena aku sudah sering latihan drumband, jadinya tidak terlalu mengalami kesulitan," jelas putera kedua dari pasangan Muntarno dan Suryati ini.

Selengkapnya di www.the-letto.blogspot.com

——–
Posted by All About Letto to .:: [All About LETTO] ::. at 7/13/2006 06:48:00 AM