Musik Pelangi Nidji, Modern-Etnik Letto
Wednesday, July 26th, 2006Republika, Minggu, 23 Juli 2006 17:15:00
Setelah Samsons menjulang, kini giliran Letto dan Nidji yang tampil unjuk kebolehan bermusik. Bernaung di bawah bendera perusahaan yang sama, mereka tampil dengan ciri tersendiri dan berbeda. Nidji hadir dengan musik pelanginya yang mereka sebut alternatif modern dan Letto yang mengawinkan nada-nada pentatonik gamelan dengan musik modern. Keunikan itulah yang membuat Letto, grup band asal Yogyakarta dan terbentuk pada akhir 2004 ini dengan personel Noe (vokal/kibor), Patub (gitar), Arian (bass), dan Dedi (drum), berkibar.
Awalnya, Letto diperkenalkan dalam album kompilasi Pilih 2004 lewat single I’ll Find A Way. ”Mereka menawarkan musik yang beda dari yang selama ini pernah ada di Musica,” ucap A & R (artist & repertoire) Musica Studio’s, Anasthasia Sadrach, dalam sebuah rilis.
Inilah yang membuat Musica Studio’s, perusahaan rekaman yang kini menaungi Letto, memberi kesempatan untuk merilis album utuh yang diberi titel Truth, Cry, and Lie. Ternyata, album yang beredar pada akhir Februari 2006 ini langsung terjual lebih dari 75 ribu keping dan kini penjualan albumnya telah mencapai angka 100 ribu kopi lebih. ”Sebagai pendatang baru Letto cukup sukses. Letto berhasil menawarkan musik yang berbeda,” ujar Indrawati Widjaja, bos Musica Studio’s.
Bu Acin, sapaan akrab Indrawati, melihat Letto memiliki warna musik yang beragam serta juga memasukkan unsur musik tradisional dengan corak slendro dan pelog dalam permainan instrumen modern. Di tengah ketatnya persaingan grup musik, lanjutnya, penampilan Letto dirancang dengan konsep yang matang dengan memiliki keunikan. ”Selain tidak selalu terpaku kepada satu jenis aliran musik, mereka juga memiliki kekhasan dalam corak lagunya yang berbeda,” ujarnya.
Bu Acin melihat, kelebihan lain album Truth, Cry, and Lie adalah kehadiran lirik lagu bahasa Inggris yang lebih dominan. Lirik-lirik lagu puitis tersebut, termasuk yang berbahasa Inggris, seluruhnya ditangani oleh Noe, sang vokalis. Semua itu, kata dia, mengalir secara spontan dan alami. ”Kami ini anak desa, tidak pernah berpikir yang muluk-muluk. Semua mengalir sesuai dengan kata batin,” ucap putra budayawan Emha Ainun Nadjib ini.
Dia mengakui sebagian besar terinspirasi dari pengalaman pribadi. Sedangkan untuk aransemen musik dikerjakan mereka bersama-sama. Tak heran jika masing-masing memberi pengaruh dalam setiap lagu. Alhasil, akan terasa sedikit ramuan dari rock ala Led Zeppelin, J-rock ala Kitaro, punk rock, bahkan psikadelik. Ramuan unik itu setelah berpadu terasa begitu easy listening.
Untuk yang penasaran dengan arti kata Letto, Noe yang bernama asli Sabrang Mowo Damar Panuluh itu mengungkapkan bahwa Letto secara harfiah sebenarnya tidak ada artinya sama sekali. ”Yang terpenting itu dalam bermusik haruslah jujur dan penuh cinta,” ujarnya.
Selengkapnya di www.the-letto.blogspot.com






